Oleh: rekamkesehatan | 14 Maret 2012

REKAM MEDIS

Rekam medis merupakan kumpulan berkas yang sangat penting karena berisi data pasien, nama, jenis kelamin, umur, alamat, golongan darah, pekerjaan dan data yang lain. Data yang sangat penting yang ada dalam rekam medis adalah catatan tentang status kesehatan pasien, riwayat penyakit, diagnosis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan radiologi dan pemeriksaan lainnya. Dalam rekam medis juga berisi tentang jenis pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga medis di badan pelayanan kesehatan maupun praktek pribadi.  Hal ini akan sangat membantu proses pelayanan kesehatan dan perkembangan kesehatan pasien karena akan terekam tindakan dan kondisi pasien yang menjalani pengobatan.

Rekam medis sangat penting dalam pelayanan kesehatan.

By: Gatotkaca

Iklan

Membangun sistem informasi di rumah sakit dikenal sangat kompleks, padat karya, dan padat modal. Untuk itu dibutuhkan metode pembangunan sistem agar dapat menuntun analist sistem untuk menghasilkan sistem yang standar. Di dunia sistem informasi dikenal beberapa metode pembangunan sistem informasi yakni dengan metode Prototype,metode spiral dan metode daur hidup. Ketiga-tiganya memiliki kelebihan dan kekurangan yang mengharuskan pengambil keputusan di tingkat manajerial lebih berhati-hati agar tidak terjadi kondisi “chaos” akibat sistem tersebut.
Metode prototype yang akan dibahas dapat memberikan gambaran/ide bagi seorang analist sistem untuk menyajikan gambaran secara lengkap. Dengan demikian manajer rumah sakit akan dapat melihat model sistem tersebut baik dari sisi tampilan maupun teknik prosedural yang akan dibangun. Ada 2 jenis metode prototype yang dikembangkan yakni metode Prototype pertama lebih singkat dan kurang rinci dibandingkan metode prototype jenis yang kedua.
Metode Prototype 1.
1. Mengidentifikasi Kebutuhan pemakai
Analist sistem melakukan studi kelayakan dan studi terhadap kebutuhan user, yang meliputi model interface, teknik prosedural maupun teknologi yang digunakan.
2. Mengembangkan Prototpe
Analist sistem bekerja sama dengan programer mengembangkan prototype sistem untuk memperlihatkan kepada manajer rumah sakit pemodelan yang akan dibangun.
3. Menentukan prototype
Analist sistem mendeteksi dan mengidentifikasi sejauh mana pemodelan yang dibuat sesuai dengan harapan user termasuk perbaikan-perbaikan yang diinginkan atau bahkan harus merombak secara keseluruhan.
4. Penggunaan Prototype
Analist sistem akan menyerahkan kepada programmer untuk mengimplementasikan model yang disetujui menjadi suatu sistem.

Selanjutnya pada metode prototype 2, ditambahkan langkah:
1. Menguji sistem operasional,
Programer akan melakukan ujicoba dengan data primer maupun sekunder untuk memastikan bahwa sistem dapat berlangsung dengan baik dan benar.
2. Menentukan sistem Operasional
Pada tahap ini sudah mulai negosiasi tentang sistem, apakah diterima atau tidak, perlu dirombak atau diteruskan.
3. Jika sistem telah disetujui , tahap terakhir adalah “Implementasi”.
Metode prototype ini cocok di gunakan untuk pengembangan skala kecil karena kurang rincinya tahapan yang dilalui dan kurangnya proses dokumentasi.
Keuntungan dan kerugian dengan metode Prototype.
Keuntungan yang diperoleh dengan metode ini:
– Terjadi komunikasi aktif antara analist , programer, user dan manajer RS
– User ikut terlibat secara aktif dan partisipatif dalam menentukan model sistem yang digunakan, dengan kata lain “Sistem dengan perspektif pemakai”.
– Dengan metode ini meningkatkan kepuasan user karena harapan dan keinginan dapat terimplementasi dengan baik, sementara biaya pengembangan sistem menjadi lebih hemat.

Kerugian yang dapat terjadi
– Kurangnya dokumentasi sehingga bila terjadi kesalahan cukup sulit untuk memperbaikinya.
– User dalam perjalanan pembangunan sistem mengembangkan ide-ide dan gagasannya sehingga kadang menjadi sangat luas dan sulit untuk diimplementasikan.
So…pada tulisan berikutnya akan kami bahas metode daur hidup yang bisa jadi cocok untuk pengembangan sistem informasi di rumah sakit karena harus melewati tahap-tahap perencanaan, implementasi, evaluasi , penggunaan dan pemeliharaan.

(Referensi: raymond Mc.Leod,Jr,1995)
Yoyok-simkesnonreg2008.

Informasi lain bidang kesehatan

Oleh: rekamkesehatan | 27 Maret 2009

Gambaran rekam medis

gambar

Oleh: rekamkesehatan | 27 Maret 2009

Petunjuk Penentuan Kode Penyakit berdasar ICD 10

Langkah penentuan kode penyakit/tindakan:
1. Tentukan tipe pernyataan yg akan dicode, buka ICD 10 v 3. Bila pernyataan merupakan isitlah penyakit atau cidera atau kondisi lain yang terdapat pada Bab I-XIX (ICD 10 V 1), maka gunakan pernyataan tersebut sebagai “leadterm” untuk digunakan sebagai panduan menelusuri istilah yang dicari pada ICD 10 V 3 seksi 1. bila pernyataan adalah penyebab luar dari cidera yang ada di Bab XX (ICD 10 V 1) lihat dan cari kodenya pada ICD 10 V 3 seksi 2.
Baca Lanjutannya…

Oleh: rekamkesehatan | 20 Maret 2009

Anda Punya Masalah seperti ini ???

Kami tahu solusinya

Kami tahu solusinya.

Kalau tempat penyimpanan dokumen rekam medis seperti ini, siapa yang tidak pusing..

Admin Blog kami memang berkompeten di bidang ini: Punggawa  SIMKES UGM 2008, Bos Edi ( Rekam Medis Sardjito), Mas Yoyok (Rekam Medis Panti Rapih), Mbak Pitri (Bos’e D3 Rekam Medis UGM) dan Gatotkaca (Peny.Dalam Sardjito)

Kami berupaya selalu mendampingi lewat BLOG ini teman-teman rekam Kesehatan baik di Puskesmas maupun Rumah Sakit di Indonesia.Atau adik-adik mahasiswa SIK Rekam Medis dimanapun berada.

So…Kami tunggu semuanya……SALAM.

Pengelola: Anak SIMKES UGM 2008 Non Reguler Kelompok Rumah Sakit

Oleh: rekamkesehatan | 20 Maret 2009

ASPEK KEAMANAN DALAM PEMANFAATAN INFORMASI KESEHATAN

 

Dalam pelaksanaan suatu sistem informasi tentu tidak bisa terlepas dari keamanan data. Terlebih bagi organisasi besar yang tidak go public, sistem informasi yang dijalankan tentu sudah dibuat sedemikian rupa agar data-data perusahaan tidak dapat diakses oleh pihak yang tidak berkompeten. Begitu pula organisasi kesehatan atau individu yang menyediakan informasi kesehatan di internet memiliki kewajiban harus dapat dipercaya, menjaga privasi user dan taat pada standar dalam memberikan pelayanan terbaik untuk sebuah transaksiyang bersifat on-line (on-line commerce). Ada tujuh kriteria yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kualitas sisi keamanan dari informasi kesehatan yang disediakan di internet,

Kredibilitas

Kredibilitas disini meliputi sumber informasi , penulis,sponsor, tingkat kekinian(up to date), relevansi dan manfaat informasi serta proses review informasi.

Isi (Content)

Isi dari informasi harus akurat , komplet dan menyediakan disclaimer yang tepat

Disclosure

Disclosure meliputi pemberitahuan kepada user tentang tujuan dari website

Hubungan (Link)

Link dalam internet harus dievaluasi mengecu pada relevansinya dengan fokus pada website, isi dan back-linknya

Desain (Design)

Desain dari website dari accesbility, navigability dan perlengkapan lain untuk kemampuan pencarian internal.

Inter-aktifitas

Interaktifitas meliputi pembuatan mekanisme feedback dan jalur untuk pertukaran informasi antar user.

Caveat (Warning)

Menyertakan klarifikasi tentang fungsi website untuk market produk dan pelayanan atau hanya bertindak sebagai penyedia informasi yang utama.

By. Yoyok-simkesnonreg

“Tentang tata cara pengalihan dokumen perusahaan ke dalam microfilm atau media lainnya dan legalisasi”.

Undang-undang ini diterbitkan sebelum adanya UU Informasi dan Transaksi Elektronik, akan tetapi fungsinya bisa saling melengkapi. Jika pada UU ITE lebih kearah keabsahan transaksi menggunakan teknologi , pada PP ini tentang proses peralihan dari manual ke elektronik. Peraturan pemerintah ini diterbitkan dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 16 UU no 8 tahun 1997 tentang dokumen perusahaan. Memang tidak bisa disamakan antara dokumen medis dengan dokumen perusahaan. Pada dokumen perusahaan cenderung lebih fleksibel dalam proses pemusnahannya. Seperti pemusnahan obat, pemusnahan dokumen rekam medis juga perlu kebijakan yang dapat memayungi staff operasional di lapangan maupun stakeholder yang ketiban sampur akibat makin padatnya dokumen rekam medis.

Dokumen perusahaan sendiri seperti dituangkan dalam PP tersebut adalah data,catatan dan atau keterangan yang dibuat dan atau diterima oleh perusahaan dalam rangka pelaksanaan kegiatannya,baik tertulis diatas kertas atau sarana lain maupun terekam dalam bentuk corak apapun yang dapat dilihat , dibaca atau didengar. Legalisasi yang dimaksud adalah tindakan pengesahan isi dokumen perusahaan yang dialihkan atau ditransformasikan ke dalam microfilm atau media lain, yang menerangkan atau menyatakan bahwa isi dokumen perusahaan yang terkandung didalam microfilm atau media lain tersebut sesuai naskah aslinya. Pada pasal 5 ditegaskan bahwa pimpinan perusahaan wajib menyimpan naskah dokumen asli dokumen perusahaan yang telah dialihkan ke dalam microfilm atau media lainnya , dalam hal dokumen tersebut masih:

Mempunyai nilai pembuktian otentik

Mengandung kepentingan hukum tertentu

Hal yang dapat dijadikan bahan kajian bagi teman-teman praktisi hukum kesehatan dan rekam medis terdapat pada Bab 10, bahwa pengalihan dokumen perusahaan dilakukan dengan menggunakan peralatan dan teknologi yang memenuhi standar ketetapan dan kelengkapan sehingga dapat menjamin hasil pengalihan sesuai naskah asli dokumen yang dialihkan. Dengan pengalihan dokumen tersebut pimpinan perusahaan wajib menjaga keamanan proses pengalihan agar:

Dokumen pengganti sama dengan naskah aslinya

Mikrofim tersimpan awet dalam jangka waktu tertentu

Dokumen hasil pengalihan dapat dibaca atau divetak kembali diatas kertas.

Selain tersebut diatas, yang paling penting adalah proses legalisasi dan berita acaranya. Dalam PP ini diatur dalam pasal 13, dimana dijelaskan secara rinci mulai dari proses legalisasi maupun teknis pemusnahannya.

BAHAN DISKUSI

1 Bagaimana kaitan PP tersebut dengan UU ITE maupun Permenkes 269/Menkes/Per/III/2008?

2. Aspek hukum dokumen medis

3. Keabsahan dokumen yang telah dialihkan ke media elektronik tetapi mempunyai kualitas yang kurang baik.

Informasi kesehatan

Yoyok-simkes

Dalam artikel yang lalu telah disampaikan tentang bagaimana pemusnahan rekam medis. Saat ini kami akan memberikan informasi tambahan  tentang penyimpanan, pemusnahan dan kerahasiaan rekam medis sesuai Permenkes No. 269/MENKES/PER/III/2008. Sesuai Permenkes tersebut dijelaskan antara lain:

 

I. Untuk Pelayanan Kesehatan di  Rumah Sakit dalam mengelola dan pemusnahan rekam medis maka harus memenuhi aturan sebagai berikut:

  1. Rekam medis pasien rawat inap wajib disimpan sekurang-kuangnya 5 tahun sejak pasien berobat terakhir atau pulang dari berobat di rumah sakit.
  2. Setelah 5 tahun rekam medis dapat dimusnahkan kecuali ringakasan pulang dan persetujuan tindakan medik.
  3. Ringakasan pulang dan persetujuan tindakan medik wajib disimpan  dalam jangka waktu 10 sejak ringkasan dan persetujuan medik dibuat.
  4. Rekam medis dan ringkasan pulang disimpan oleh petugas yang ditunjuk oleh pimpinan sarana pelayanan kesehatan.

 

II. Untuk Pelayanan Kesehatan non rumah Sakit dalam mengelola dan pemusnahan rekam medis harus memenuhi aturan sebagai berikut:

  1. Rekam medis pasien wajib disimpan sekurang-kuangnya 2 tahun sejak pasien berobat terakhir atau pulang dari berobat. Setelah 2 tahun maka rekam medis dapat dimusnahkan.

 

 

Kerahasiaan isi rekam medis yang berupa identitas, diagnosis, riwayat penyakit, riwayat pemeriksaan dan riwayat pengobatan harus dijaga kerahasiaannya oleh dokter, dokter gigi, petugas kesehatan lain, petugas pengelola dan pimpinan sarana pelayanan kesehatan. Untuk keperluan tertentu rekam medis tersebut dapat dibuka dengan ketentuan:

  1. Untuk kepentingan kesehatan pasien.
  2. Atas perintah pengadilan untuk penegakan hukum.
  3. Permintaan dan atau persetujuan pasien sendiri.
  4. Permintaan lembaga /institusi berdasarkan undang-undang.
  5. Untuk kepentingan penelitian, audit, pendidikan dengan syarat tidak menyebutkan identitas pasien.

 

Permintaan rekam medis tersebut harus dilakukan tertulis kepada pimpinan sarana pelayanan kesehatan.

 

Sesuai Ketentuan Permenkes No. 269/MENKES/PER/III/2008 maka kita dapat menjalankan pengelolaan rekam medis di rumah sakit maupun non rumah sakit. Dokter, dokter gigi dan petugas lain, pengelola dan pimpinan harus  menjaga kerahasiaan rekam medis serta dapat memanfaatkan rekam medis sesuai ketentuannya.

 

By. Gatotkaca

Oleh: rekamkesehatan | 28 Februari 2009

KOMPETENSI PEREKAM MEDIS

Berdasarkan Peraturan Mentri Kesehatan RI No. 377/MENKES/SK/III/2007 tentang Standar Profesi Perekam Medis, bahwa ada 2 kategori kompetensi yang harus dimiliki perekam medis dan informasi kesehatan. Kategori tersebut adalah kompetensi pokok dan kompetensi pendukung yang kedua-duanya harus dimiliki oleh seorang perekam medis dan informasi kesehatan untuk menjalankan tugas di sarana pelayanan kesehatan.
Kompetensi perekam medis dan informasi kesehatan merupakan pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku yang harus dimiliki oleh seorang profesi perekam medis dan informasi kesehatan dalam melakukan tanggung jawab diberbagai tatanan pelayanan kesehatan. Sorang perekam medis dan informasi kesehatan harus mempunyai pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku yang merupakan kompetensi dari profesinya. Kompetensi pokok merupakan kompetensi mutlak yang harus dimiliki oleh profesi perekam medis. Sedangkan kompetensi pendukung merupakan Kemampuan yang harus dimiliki sebagai pengembangan pengetahuan dan ketrampilan dasar untuk mendukung tugas. Artinya bahwa seorang profesi perekam medis harus menguasai kompetensi pokok yang telah ditetapkan oleh organisasi profesi untuk menjalankan kegiatan rekam medis dan informasi kesehatan, selain itu juga harus menguasai kompetensi pendukung sebagai pengembangan dari kompetensi dasar.

Baca Lanjutannya…

PENDAHULUAN
Dengan diberlakukannya sistem INA DRG’s, dalam pembayaran pelayanan kesehatan di rumah sakit, maka peran perekam medis sangat menentukan terutama dalam hal kodefikasi penyakit maupun tiundakan yang pada akhirnya akan menentukan biaya pelayanan kesehatan. Hal ini berarti bahwa apabila terjadi kesalahan dalam menentukan kode penyakit maupun kode tindakan pasien maka akan muncul biaya yang hafrus ditanggung tidak sesuai dengan kondisi atau penyakit pasien.
Oleh karena itu sangat diperlukan tenaga perekam medis yang mampu dan mempunyai kopetensi dalam menentukan kode penyakit berdasarkan ICD-10 dan kode tindakan kedokteran berdasarkan ICD 9 CM dengan tepat sesuai dengan aturan yang ada, sehingga dalam pelaksanaan sistem pembayaran berdasarkan INA DRG’s akan berjalan sesuai dengan harapan pemerintah dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan kepada masyrakat.
Dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut, maka PORMIKI, sebagai organisasi profesi perekam medis, mempunyai kewajiban untuk memfasilitasi dan mempersiapkan tenaga perekam medis yang mampu dan kopeten dalam bidangnya.

TUJUAN
Secara umum hal ini bertujuan untuk mendorong supaya sebagai organisasi profesi perekam medis dan informasi kesehatan mempunyai kewajiban dalam hal mempersiapkan tenaga yang mempunyai kompetensi dalam bidang koding, sehingga secara tidak langsung PORMIKI mempunyai andil dalam mendukung program yang telah dicanangkan oleh pemerintah.

METODE
Untuk mencapai tujuan yang optimal, maka metode yang harus dilakukan adalah dengan mengadakan pelatihan, baik dilakukan di kelas dengan cara ceramah maupun diskusi, juga perlu melakukan praktek dengan menggunakan aplikasi INA DRG’s.

HASIL
Menciptakan tenaga perekam medis yang handal dan kopeten dalam menentukan kode penyakit dan tindakan kedokteran yang akurat.

KESIMPULAN
Tenaga perekam medis sangat diperlukan dalam medukung keberhasilan pelaksanaan INA DRG’s.

by Eddy Kristiyono

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori